Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidak mampuan tubuh memproduksi hormon insulin yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Selain itu DM dikenal sebagai silent killer karena sering tidak disadari oleh penyandangnya dan saat diketahui sudah terjadi komplikasi ini menduduki peringkat ke-6 penyebab kematian di Indonesia.

Rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk memeriksakan kesehatan secara rutin dan kurangnya pengetahuan tentang DM yang membuat penyakit ini tidak dapat dideteksi lebih awal. Prevalensinya pun sudah cukup signifikan naik sejak tahun 2007 dan perkiraan jumlah penderitanya akan terus meningkat di wilayah perkotaan dan pedesaan menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan RI.

DM seringkali ditemui dengan penyakit penyerta/ komplikasi seperti peningkatan resiko penyakit jantung dan stroke, kerusakan syaraf (Neuropati) di kaki yang meningkatkan kejadian ulkus kaki, infeksi dan bahkan keharusan amputasi kaki. Selain itu kondisi DM dapat meningkatkan kejadian Retinopati Diabetikum yang menjadi penyebab utama kebutaan karena kerusakan pembuluh darah di retina. Gagal ginjal juga dapat terjadi menyertai DM hingga menyebabkan peningkatan resiko kematian bagi para penderita DM.

DM dapat dikenali dengan gejala khas yakni sering kencing (Poliuri), berat badan turun drastis meski banyak makan dan minum karena peningkatan nafsu makan (Polifagi) dan mudah haus (Polidipsi). Selain itu beberapa gejala berbeda juga ditemukan seperti luka yang tak kunjung sembuh, pandangan rabun, gatal di daerah kemaluan, sering kesemutan di tungkai kaki, cepat lelah dan mengantuk, serta penurunan kemampuan seks.

Pemerintah melalui program pengendalian kejadian DM dilaksanakan secara terintegrasi yang bertujuan untuk pengendalian penyakit maupun untuk mengurangi kejadian komplikasi pada penderita, yakni :

  1. Edukasi/ konseling yang berkelanjutan tentang tata laksana faktor resiko utama seperti berhenti merokok, pencegahan obesitas, hipertensi dan konsumsi makanan sehat.
  2. Penanganan medis melalui obat-obatan maupun terapi insulin dengan selalu berkonsultasi pada dokter untuk meringankan beberapa komplikasi penyerta
  3. Berkonsultasi ke ahli gizi mengenai pelaksanaan diet atau pengaturan makan dengan prinsip 3J yakni tepat jumlah atau sesuai kalori yang dibutuhkan, tepat jam makan untuk mengontrol kadar gula darah, dan tepat jenis dengan mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar indeks glikemik rendah.
  4. Meminta saran pada dokter mengenai aktifitas fisik yang aman agar terhindar dari cidera maupun luka terbuka.
  5. Memanfaatkan pelayanan kesehatan terdekat untuk selalu mengontrol kondisi kesehatan diri sendiri dan keluarga.

Rosaliadesi/PKRSMS/2019